Rumput yang tumbuh di sela-sela susunan rapi paving block setiap hari makin subur. Padahal tanah yang berfungsi sebagai media tumbuhnya rumput liar hanya sedikit. Mereka tak pernah menyerah untuk terus tumbuh, walau di sela-sela tumpukan beton, walau terus dicabut hingga ke akar-akarnya, walau disemprot pestisida.

            Seorang berpakaian dinas warna hijau tua berjongkok di depan bangunan bercat putih dengan kusen-kusennya yang dicat abu-abu tua. Seseorang tersebut tampak takzim mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela paving block segi enam yang tersusun rapi. Orang tersebut tidak sendiri. Masih ada puluhan orang berseragam sewarna dengan orang pertama dan ratusan orang berseragam putih abu-abu. Ya, pemandangan itu adalah pemandangan wajar yang selalu kulihat tiap Senin minggu ke-3. Jika setiap Senin, sekolah-sekolah lain mengadakan upacara bendera, di sekolah tersebut hanya pada Senin minggu pertama. Minggu kedua diisi dengan tausyiah dari seorang murid dari perwakilan tiap kelas dan minggu ketiga dan keempat diisi dengan bergotong royong membersihkan sekolah.

            Orang pertama yang takzim mencabuti dan membersihkan rumput di lapangan adalah kepala sekolah sekolah menengah atas tersebut. Beliau selalu ikut serta membersihkan sekolah. Tidak hanya hari Senin minggu ketiga, di hari lain ketika rumput-rumput di sela-sela paving block segi enam itu sudah tumbuh lagi, beliau akan turun tangan sendiri, walau pun di sekolah tersebut juga ada seorang pengurus kebun. Beliau pernah mengatakan jika merasa memiliki sesuatu maka kita akan menjaga sesuatu itu baik-baik. Dan beliau menunjukkan dengan perbuatan, bahwa beliau merasa memiliki sekolah tersebut. Sekolah yang beliau dan guru-guru senior lainnya rintis mulai dari awal pembangunan sekolah tersebut hingga sekarang menginjak tahun ke-7.

            Beberapa bulan yang lalu pada wisuda angkatan keempat sekolah menengah atas tersebut, panitia wisuda memberikan kenang-kenangan kepada kepala sekolah. Kenang-kenangan itu ditunjukkan kepada para tamu undangan dan siswa kelas 12 yang sedang diwisuda lalu ditunjukkan kepada kepala sekolah. Beliau hanya tersenyum dan tertawa melihat kenang-kenangan tersebut, sebuah foto diri beliau yang diambil diam-diam. Beliau dalam foto tersebut sedang membersihkan rumput di halaman. Kepala sekolah kemudian berkata,”Disini tidak ada yang namanya bos atau majikan. Kalau pun ada, bos pelayan. Pelayan masyarakat untuk mencerdaskan bangsa.” Kata-kata beliau disambut tepuk tangan meriah dari para tamu undangan yang hadir. Beliau tidak malu turun tangan membersihkan rumput-rumput yang timbuh di sela-sela paving block segi enam. Hal yang sekarang jarang sekali dilakukan para pemimpin.

            Pernah ketika penulis dan kawan-kawannya sedang berselancar di dunia maya, mengerjakan tugas atau pun sekedar memanfaatkan hotspot yang tersedia di sekolah, kepala sekolah lewat dan menyapa salah satu teman penulis. Beliau juga menggoda teman penulis dengan berkata ,”Apa kabar si X?” X adalah seorang perempuan yang tengah dekat dengan teman penulis tersebut. Dan teman-teman serta penulis tertawa mendengar godaan yang dikatakan kepala sekolah. Teman penulis yang digoda hanya menghindar dengan alasan-alasan yang selanjutnya terus mengundang godaan dan gelak tawa.

            Beliau adalah kepala sekolah SMA Negeri 4 Berau yang dulu bernama SMA Plus Sambaliung, Drs Eddy Darmawan, M.M.Pd. Tidak ada yang berubah dari sekolah kami, meski nama berubah. Begitu kata beliau ketika ditanya orang-orang tentang dampak perubahan nama sekolah. Beliau tidak hanya sosok pemimpin yang dapat menjadi teladan tapi juga sosok yang bijak dalam mengambil keputusan walau pun dalam mengambil keputusan tersebut beliau tetap humoris.

Nama : Riana Pangestu Utami

Laskar : 6

Ini adalah cerita inspirasi mengenai pengalaman saya setahun yang lalu. Saya sendiri tidak tahu apakah kisah ini layak disebut sebagai cerita inspirasi atau tidak. Tetapi kisah ini sedikit banyak memengaruhi perjalanan hidup saya setahun ini. Ini adalah pengalaman saya yang masih saya ingat hingga sekarang. Pengalaman ini terjadi tahun lalu pada bulan Ramadhan hingga bulan Oktober. Sepulang dari mengikuti perlombaan tingkat nasional, saya dipanggil kepala sekolah saya. Beliau memberitahukan bahwa sekolah kami mendapat undangan mengikuti perlombaan sains tingkat Internasional. Pertama kali mendengar kabar tersebut saya merasa kaget dan bingung. Saya bingung apakah akan mengambil kesempatan tersebut atau tidak karena saya takut mengecewakan banyak pihak, terutama orang tua dan pihak daerah. Akhirnya setelah meminta izin dari kedua orang tua saya, saya menguatkan tekad untuk mengambil amanah tersebut.

            Kemudian, berangkatlah Saya dan Kepala Sekolah ke Bandung untuk mengikuti pelatihan selama beberapa bulan. Waktu kedatangan saya bertepatan dengan hari kedua bulan Ramadhan. Saya benar-benar merasakan Ramadhan yang berbeda, di tempat yang berbeda, suasana yang berbeda dan di bawah tekanan. Dari hari Senin hingga hari Jumat, Saya dan teman-teman belajar tentang Astronomi dan pada hari Sabtu setiap minggunya diadakan tes untuk mengukur seberapa dalam kami memahami materi dan seberapa siap persiapan yang telah kami lakukan. Setiap dua minggu sekali kami juga latihan observasi menggunakan teropong bintang untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian observasi karena dalam perlombaan tersebut yang ditandingkan bukan hanya tes teori tetapi juga tes observasi dan olah data.

            Saya dan teman-teman terus berlatih dan belajar keras. Kami saling menguatkan dan berbagi. Tahun itu menjadi tahun pertama saya menjalani Ramadhan dan Idul Fitri tanpa orang tua, keluarga, saudara, sahabat dan guru-guru yang biasanya selalu kami kunjungi untuk saling maaf memaafkan. Saya mengalami keadaan di bawah tekanan, mudah menangis dan menjadi paranoid serta menjadi pribadi yang pesimis sekaligus optimis. Di satu sisi saya ingin mempersembahkan yang terbaik sebagai rasa syukur Saya atas apa yang telah Allah Swt. anugerahkan. Juga ingin melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang anak, ingin berbakti kepada orang tua, sekolah, daerah dan negara.

            Rasa pesimis saya semakin bertambah ketika evaluasi diadakan dan seorang pengajar yang cukup dengan kami mengatakan bahwa beberapa dari kami, termasuk saya tidak mungkin memberikan yang terbaik atau tidak mungkin memenangkan perlombaan dengan baik. Saya menangis. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya tidak mungkin mundur lagi. Sudah kepalang tanggung berada di situasi seberat dan setidak menyenangkan seperti itu. Sudah banyak sahabat, teman-teman, adik-adik dan kakak-kakak kelas yang berharap pada saya. Saya tidak mungkin mengecewakan mereka dengan memberikan kabar menyedihkan. Saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama saat mengikuti perlombaan tingkat nasional.

            Saya sudah bertekad akan maju walaupun kemungkinannya sangat kecil dan bahkan pengajar saya pun tidak yakin saya akan bisa memenangkan lomba tersebut. Saya maju dengan sisa optimisme yang masih ada dan berusaha saya besarkan lagi. Saya akan lakukan semuanya dengan perasaan senang, tanpa beban walau kenyataannya itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Karena saya tahu beban sebenarnya lebih berat dari yang saya bayangkan.

            Ketika ditanya pengajar apa yang menjadi target saya, saya hanya mengatakan saya ingin mengerjakan soal-soal dengan hati yang senang. Dan pengajar saya hanya menertawakan saya. Tapi saya tidak peduli. Ketika tiba di tempat lomba saya banyak mengingat Allah dan banyak berdoa. Selama tiga hari perlombaan, saya berusaha mengerjakan soal dengan maksimal dan berusaha menikmati mengerjakan soal tersebut. Saya memasrahkan semuanya pada Allah. Allah lebih tahu yang terbaik untuk semua hamba-Nya. Bunda saya juga selalu mendoakan. Pada hari pengumuman, hati saya tidak menentu. Saya semakin pusing ketika nama saya tidak kunjung disebutkan sebagai daftar pemenang lomba. Saya sudah sedih memikirkan reaksi orang-orang terdekat saya. Namun, teman-teman yang juga mengikuti lomba dan pengajar yang ikut mendampingi dalam lomba tersebut meneguhkan dan menghibur saya bahwa saya akan mendapati nama saya sebagai pemenang. Saya masih tidak percaya sebelum saya mendengar sendiri nama saya disebut. Saya sangat bahagia ketika mendapati nama saya dipanggil sebagai daftar pemenang pertama. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT. Saya bisa membuktikan bahwa saya bisa dengan bantuan doa dari orang-orang terdekat dan juga semua ini adalah rencana Allah. Saya akhirnya menyadari bahwa kata-kata pengajar bahwa saya tidak bisa menang dalam lomba adalah bentuk motivasi negatif. Memotivasi dengan mengeluarkan kata-kata pesimisme untuk membangkitkan optimisme.